Rabu, 26 Maret 2008

Traveller...

Sebulan penuh dalam perjalanan untuk ikut survey Sang Dosen...
Pertemuan dengan banyak orang yang mempunyai karakter berbeda, seneng dan senep... :-D Mak Nyak...rasane capek, yach inilah belajar benar-benar jadi statistician. But...kadang ada hal-hal yang sebenarnya menurutku kurang tepat dan sesuai dengan teori yang telah kupelajari di Kampus Sukolilo, pi...orang gak bisa sok ingin membenarkan atau menyalahkan orang lain, tunggu...tunggu...tunggulah saat yang tepat untuk dapat memberi saran terbaik yang bisa digunakan orang lain.
Abah..Mak Nyak.. ini petualanganku, ini perjuanganku... untuk menyambung kerja keras kalian. Aku tekadkan, aku dapat selalu harumkan diri dan nama Panjenengan berdua dan tunjukkan kalian adalah teladan bagi semua...

Rabu, 27 Februari 2008

Pinter, Bukan Titel

Omong-omong tentang kecerdasan ato kepinteran, terkadang kita sering kebablasan, keburu takut dengan orang lantaran titel yang disandang orangnya. Ehm... ya wajar sich. Tapi, kalo kita mau sadari, banyaknya titel yang dapat dibeli? Tunggu dulu...

Secara garis besar kecerdasan dibedakan dalam dua bagian besar yaitu kecerdasan spiritual (IMTAQ) dan kecerdasan keilmuan (IPTEK). Dan seringkali antara dua kecerdasan besar ini merupakan hal yang saling independen. Dan ini semestinya tidak boleh. Dua kecerdasan ini kalo saling lepas, akan menyebabkan kurang bermakna dan bermanfaatnya ilmu.

Dalam kenyataannya, memang dua kecerdasan itu perlu dukungan lain yaitu kecakapan hidup/life skill. Kecakapan hidup ini merupakan kecerdasan yang didapatkan dari pengalaman hidup. Pengalaman hidup berupa ujian dengan permasalahan, jika dia lulus dari permasalahan maka artinya dia bisa menyelesaikan permasalahannya dengan baik dan mengambil hikmah dari kesuksesan.

Bila digambarkan dalam sebuah diagram venn, dua kecerdasan yang ada berupa dua lingkaran besar, dan lingkaran lain yang diperlukan berupa lingkaran kecakapan hidup. Sehingga dari ketiga lingkaran kecerdasan ini didapatkan interseksi (irisan) dari ketiganya. Nah.. inilah baru hebat. Manusia yang dapat menjalani hidup dengan memanfaatkan dengan baik interseksi ketiga kecerdasan ini pastilah orang-orang yang sukses, baik di dunianya maupun di akhiratnya kelak, amiin..

Pak Ruslan (yang sedang menyelesaikan S3-nya) mengatakan kedewasaan seseorang itu adalah saat dia bisa lulus ujian hidup, dan saya mengatakan kalo ujian terbesar saat teruji dengan permasalahan adalah saat orang diharuskan mengambil keputusan dari banyaknya pilihan dalam menyelesaikan ujiannya.

So.. kita sama-sama manusianya, jangan terlebih dahulu takut dengan titel yang disandang orang, hormatilah mereka sewajarnya. Ketika kita berinteraksi dengannyalah kita akan tahu seberapa cerdasnya seseorang tersebut dan seberapa tinggi ilmunya. Tapi, janganlah pernah meremehkan orang lain. Siapapun orangnya, selalu ada hal menarik dari mereka, ada hal yang dapat kita pelajari dari mereka, selalu dan selalu. Karena Allah menciptakan setiap manusia dengan karakteristik dan kelebihan masing-masing.

Senin, 25 Februari 2008

Azzamnya...luar biasa

Azzam, sosok yang digambarkan dalam "Ketika Cinta Bertasbih", seorang yang luar biasa dan meraih predikat "mumtaz" dalam studinya, ternyata menyelesaikan S1-nya selama 7 tahun lebih. Kelambatannya menyelesaikan studi bukan dikarenakan karena kebodohannya, bukan karena teledornya dia, tetapi karena ada yang harus dia prioritaskan. Dialah laki-laki satu-satunya dalam keluarga setelah wafatnya Sang Ayah.
Jika kita tengok saudara-saudara atau tetangga di sekitar kita, mungkin kita tak akan menunda mengatakan "Sosok yang Luar Biasa" bukan kepada Seorang Sosok Fiktif dalam Novel.

Aku tak mengenalnya sama sekali saat lelaki itu memintaku melalui telepon untuk mengikuti acara yang digelar di Kota Malang. Hari sudah sore, acara itu memikatku untuk datang. Hatiku ragu antara berangkat dan tidak, bukan lagi sinar matahari tetapi rembulan (kalo pas ada) yang akan kudapatkan ketika sampai di Malang. Lelaki itu meyakinkanku untuk mengikuti acara tersebut dan meyakinkanku bahwa saya akan selamat dan menuju ke tempat yang benar. Bukannya saya penakut, saya adalah seorang perempuan yang harus bisa menjaga diriku sendiri, orangtuaku dan agamaku. Entah kenapa, saya tetap berangkat dan percaya kepada seseorang yang tak kukenal dan tak pernah kulihat sama sekali....

Dia telah membantuku dalam banyak hal dan saya belum juga mengenalnya sampai saya mendengar ucapannya "Aku sedang belajar jadi Bapak dan harus belajar jadi Bapak". Saya terdiam dan sepertinya dia benar-benar sedang memikul beban yang teramat berat.

Adik bungsunya baru berusia 7 tahun, ketika sepeda motor yang dikendarai oleh kedua orang tuanya tertabrak kereta api. Sementara dia masih duduk di bangku kuliah. Tentunya kita bisa memperhitungkan, jika si bungsu masih 7 tahun dan dia masih kuliah, pastinya juga perlu kita tahu bahwa dia punya adik yang lain, seorang kakak laki-laki dan 2 orang kakak perempuan dari si bungsu. Dan dia harus jadi kakak, Bapak dan sekaligus ibu bagi adik-adiknya.

Jika kalian jadi Lelaki itu, apa yang bakal kalian lakukan? Menangiskah? Meratapkah?
Dan laki-laki itu kini telah berhasil mendidik adiknya dengan baik, kedua adiknya telah menyelesaikan kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Mereka orang-orang yang hebat, seperti kita mengagumi Azzam....